MENGANALISIS SEJARAH G 30 S/PKI
TUGAS BAHASA INDONESIA
Bimbingan : Ibu Dra. Lilik Musyarofah , M. Pd.
Disusun oleh :
Afifah Dwi Hardianti
Anggrean Maula
Gursherine
Jihan Alexandra
Putri Fitriani
ORIENTASI :
Peristiwa G30S/PKI atau biasa disebut dengan Gerakan 30 September merupakan salah satu peristiwa pemberontakan komunis yang terjadi pada bulan September sesudah beberapa tahun Indonesia merdeka. Peristiwa G30S PKI terjadi di malam hari tepatnya pada tanggal 30 September tahun 1965. ada 7 perwira tinggi militer yang terbunuh dalam peristiwa tersebut.
RANGKAIAN/PENGUNGKAPAN PERISTIWA :
Tanggal 1 Oktober 1965
Operasi penumpasan G 30 S/PKI dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi dapat direbut kembali tanpa pertumpahan darah oleh satuan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, pasukan Para Kujang/328 Siliwangi, dan dibantu pasukan kavaleri. Setelah diketahui bahwa basis G 30 S/PKI berada di sekitar Halim Perdana Kusuma, sasaran diarahkan ke sana.
Tanggal 2 Oktober 1965
Pada tanggal 2 Oktober, Halim Perdana Kusuma diserang oleh satuan RPKAD di bawah komando Kolonel Sarwo Edhi Wibowo atas perintah Mayjen Soeharto. Pada pikul 12.00 siang, seluruh tempat itu telah berhasil dikuasai oleh TNI – AD.
Tanggal 3 Oktober 1965
Pada hari Minggu tanggal 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD yang dipimpin oleh Mayor C.I Santoso berhasil menguasai daerah Lubang Buaya. Setelah usaha pencarian perwira TNI – AD dipergiat dan atas petunjuk Kopral Satu Polisi Sukirman yang menjadi tawanan G 30 S/PKI, tetapi berhasil melarikan diri didapat keterangan bahwa para perwira TNI – AD tersebut dibawah ke Lubang Buaya. Karena daerah terebut diselidiki secara intensif, akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1965 titemukan tempat para perwira yang diculik dan dibunuh tersebut. Mayat para perwira itu dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang bergaris tengah ¾ meter dengan kedalaman kira – kira 12 meter, yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.
Tanggal 4 Oktober 1965
Pada tanggal 4 Oktober, penggalian Sumur Lubang Buaya dilanjutkan kembali (karena ditunda pada tanggal 13 Oktober pukul 17.00 WIB hingga keesokan hari) yang diteruskan oleh pasukan Para Amfibi KKO – AL dengan disaksikan pimpinan sementara TNI – AD Mayjen Soeharto. Jenazah para perwira setelah dapat diangkat dari sumur tua tersebut terlihat adanya kerusakan fisik yang sedemikian rupa. Hal inilah yang menjadi saksi bisu bagi bangsa Indonesia betapa kejamnya siksaan yang mereka alami sebelum wafat.
Tanggal 5 Oktober 1965
Pada tanggal 5 Oktober, jenazah para perwira TNI – AD tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang sebelumnya disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat.
Tanggal 6 Oktober 1965
Pada tanggal 6 Oktober, dengan surat keputusan pemerintah yang diambil dalam Sidang Kabinet Dwikora, para perwira TNI – AD tersebut ditetapakan sebagai Pahlawan Revolusi.
MENUJU KONFLIK :
Pada bulan Juli sampai bulan September 1965, PKI mengadakan pelatihan militer dilubang buaya,Pondok Gede, Jakarta. Mereka yang dilatih adalah TNI/Polisi/Kader simpatisan PKI. Mereka tidak diasramakan tetapi mereka dikemahkan dan ada beberapa yang tinggal dirumah rakyat yang ada disekitar tempat pelatihan tersebut.
PUNCAK KONFILK :
Dimulai dengan kasus penculikan 7 jendral yang terdiri dari anggota staff tentara oleh sekelompok pasukan yang bergerak dari Lapangan Udara menuju Jakarta daerah selatan. Tiga dari tujuh jenderal tersebut diantaranya telah dibunuh di rumah mereka masing-masing, yakni Ahmad Yani, M.T. Haryono dan D.I. Panjaitan.
Sementara itu ketiga target lainya yaitu Soeprapto, S.Parman dan Sutoyo ditangkap secara hidup-hidup. Abdul Harris Nasution yang menjadi target utama kelompok pasukan tersebut berhasil kabur setelah berusaha melompati dinding batas kedubes Irak.
Meskipun begitu, Pierre Tendean beserta anak gadisnya, Ade Irma S. Nasution pun tewas setelah ditangkap dan ditembak pada 6 Oktober oleh regu sergap. Korban tewas semakin bertambah disaat regu penculik menembak serta membunuh seorang polisi penjaga rumah tetangga Nasution. Abert Naiborhu menjadi korban terakhir dalam kejadian ini.
Mayat dan tahanan penculikan dibawa ke kamp G30S / PKI di Lubang Buaya, tempat korban selamat disiksa dan dibunuh. Tubuh mereka kemudian dilempar ke dalam sumur. Keesokan harinya, anggota gerakan tersebut mengambil alih kantor RRI dan memaksa staf di sana untuk membaca pidato oleh Kolonel Untung, yang menyatakan bahwa G30S telah bergerak untuk mencegah sebuah kudeta oleh Dewan Jenderal dan mengumumkan pembentukan sebuah "Dewan Revolusi".
PENYELESAIAN :
Anggota ABRI yang diduga terlibat dalam Gerakan 30 September disidang dalam Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Mereka ini adalah Letnan Kolonel Untung Syamsuri (pemimpin Gerakan 30 September), Kolonel Latief, Marsekal Umar Dhani (mantan Kepala Staf Angkatan Udara) dan Brigadir Jenderal Supardjo.
Untung Syamsuri, Latief, dan Supardjo dihukum mati oleh Mahmilub. Sementara Umar Dhani dipenjara selama 32 tahun, sebelum dibebaskan pada tahun 1992.
Sudisman (Sekretaris Jendral PKI) dan Sjam Kamaruzzaman (Kepala Biro Khusus PKI) menjadi sedikit dari beberapa petinggi PKI yang tidak dibunuh di luar hukum, tetapi disidang dalam Mahmilub. Sementara sebagian besar petinggi lain seperti DN Aidit (ketua PKI), Njoto (anggota senior PKI), MH Lukman (Wakil Ketua Pertama PKI) tewas dibunuh langsung oleh Angkatan Darat tanpa sempat disidang.
Selain itu, terjadi pembantaian di berbagai daerah, ketika tentara Angkatan Darat dan massa anti komunis melakukan pembunuhan kepada mereka yang dituduh sebagai simpatisan PKI. Ratusan ribu orang diperkirakan tewas.
Mereka yang selamat dalam pembantaian kemudian dijadikan tahanan politik (tapokl) dan dibuang di Pulau Buru, Maluku. DI Pulau Buru ini, mereka dipenjara selama puluhan tahun dan dipaksa menjadi bekerja keras. Banyak yang tewas karena penyakit dan kondisi yang berat. Tahanan politik yang bertahan hidup perlahan dibebaskan, namun banyak yang memilih bertahan di Pulau Buru sebagai transmigran.
KODA :
Dari tragedi G 30S/PKI ini kita mendapatkan pelajaran bahwa terjadinya perebutan kekuasaan di dalam suatu bangsa dan negara akan selalu mengundang permasalahan. Baik itu dalam lingkup kelompok kecil maupun besar.
Dalam menjalankan amanat bangsa seharusnya kita menciptakan keharmonisan agar apa yang dicita"kan oleh bangsa cepat tercapai atau terwujud , harus adanya kerja sama satu dengan yang lain , bukan malah saling menggulingkan satu dengan yang lain.
KESIMPULAN :
Film G 30 S/PKI adalah perjuangan TNI dan rakyat Indonesia dalam menumpas pemberontakan PKI merupakan usaha yang luar biasa dalam mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang nilai-nilainya sangat cocok dengan keanekaragaman bangsa Indonesia.
NILAI-NILAI YANG DAPAT DITELADANI DARI SEJARAH G 30 S/PKI :
-Obsesi terhadap kekuasaan bisa membutakan nurani dan nalar, karena baik PKI maupun militer memiliki konspirasi sendiri untuk saling menjatuhkan demi tujuan masing-masing
-Dalam politik, semuanya bisa diatur, termasuk dengan pihak asing demi tujuan politiknya. PKI yang mendapat dukungan Soviet untuk mempertahankan Soekarno dan militer yang dibantu diam-diamn oleh CIA untuk kudeta.
-Masyarakat perlu berhati-hati terhadap sosok yang menunjukkan diri jadi pahlawan, bukan karena jasa yang sebenarnya. Sosok Soeharto yang bersikap seperti itu, plus memanipulasi sejarah nasional dengan pembuatan film tentang peristiwa itu demi penguatan versi pemerintah, justru adalah orang yang licik dan tdk patut akan gelar tersebut.

Comments
Post a Comment